PETI Poboya Telan Korban Lagi: DPRD Palu Desak Tindakan Nyata Atas Tambang Ilegal yang Terus Berulah
News Palu– Tragedi kembali terjadi di kawasan pertambangan emas tanpa izin (PETI) Poboya, Kota Palu. Longsor di area tambang ilegal tersebut telah menelan korban jiwa, mengulang deretan insiden serupa yang terus berulang tanpa penyelesaian mendasar. Peristiwa ini memantik reaksi keras Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palu yang mendesak pemerintah mengambil langkah konkret.
Anggota DPRD Palu, Nanang Palu, secara tegas menyoroti kelambanan penanganan masalah PETI Poboya yang telah menjadi “ladang maut” bagi banyak warga. “Sudah berulang kali tambang ilegal memakan korban. Ini seharusnya menjadi perhatian serius pemerintah,” tegas politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini pada Sabtu (11/10/2025).
Siklus Kematian yang Terus Berulang
Kawasan PETI Poboya bukanlah pemandangan baru dalam pemberitaan media. Lokasi ini telah lama menjadi area pertambangan emas ilegal yang ramai, menarik ribuan penambang dari berbagai daerah dengan iming-iming kekayaan cepat. Namun, di balik cerita sukses segelintir orang, tersimpan catatan kelam kecelakaan yang terus berulang.
Longsor, ambruknya terowongan, hingga keracunan merkuri telah menjadi ancaman harian yang dihadapi para penambang. Yang terbaru, longsor yang terjadi pekan ini kembali memutus nyawa dan menorehkan duka bagi keluarga korban.

Nanang mengungkapkan, sebagai wakil rakyat, ia kerap menerima keluhan masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah konsesi PT Citra Palu Minerals (CPM), area yang juga menjadi episentrum aktivitas PETI. “Masyarakat hidup dalam kecemasan ganda. Selain khawatir dengan keselamatan keluarga mereka dari risiko tambang, mereka juga resah dengan dampak lingkungan yang sudah mulai terlihat,” paparnya.
Tudingan Keterlibatan Perusahaan
Yang menarik dari pernyataan Nanang adalah kecurigaannya terhadap potensi keterlibatan pihak perusahaan dalam aktivitas tambang ilegal ini. “Jangan hanya fokus ke penambang ilegalnya, tapi ke CPM juga. Jangan-jangan mereka dapat jatah dari tambang ilegal itu,” ucapnya tanpa tedeng aling-aling.
Tudingan ini menyiratkan adanya kemungkinan praktik bagi hasil antara perusahaan pemegang konsesi dengan para penambang ilegal. Jika benar, praktik semacam ini menjelaskan mengapa PETI Poboya begitu sulit diberantas dan terus beroperasi meski telah sering terjadi korban jiwa.
Sebagai mantan aktivis pencinta alam, Nanang memiliki concern khusus terhadap kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas PETI. “Tambang emas ilegal merusak tatanan sosial, mencemari alam, dan membahayakan kesehatan manusia karena tidak mengikuti kaidah pertambangan yang benar,” jelasnya.
Dampak kerusakan lingkungan di kawasan Poboya sudah mencapai tahap mengkhawatirkan. Penggunaan merkuri secara bebas telah mencemari air tanah dan sungai, sementara pembukaan lahan secara liar telah mengakibatkan erosi dan hilangnya vegetasi alami.
Mencari Solusi Komprehensif
Meski menyoroti berbagai masalah serius, Nanang menekankan pentingnya pendekatan komprehensif dalam menyelesaikan masalah PETI Poboya. Ia menyerukan semua pihak, termasuk pemerintah kota, pemerintah provinsi, dan kepolisian untuk duduk bersama mencari solusi terbaik.
“Saya harap semua pihak bisa duduk bersama mencari jalan keluar agar tidak ada yang dirugikan,” ujarnya.
Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa solusi terhadap masalah PETI Poboya tidak bisa sekadar melalui pendekatan keamanan dengan menggusur para penambang. Dibutuhkan strategi multidimensi yang mempertimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Banyak penambang ilegal sejatinya adalah warga biasa yang mencari nafkah di tengah keterbatasan lapangan kerja. Memberantas PETI tanpa menyediakan alternatif mata pencaharian hanya akan memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.