News Palu – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) kembali menunjukkan komitmennya terhadap peningkatan kualitas pendidikan tinggi dengan meluncurkan Program Anti Putus Kuliah. Program ini dirancang untuk membantu mahasiswa yang terkendala biaya agar dapat melanjutkan studi tanpa hambatan.

Gubernur Sulteng, Rusdy Mastura, menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang tidak boleh berhenti di tengah jalan hanya karena masalah finansial. “Banyak mahasiswa kita yang berprestasi, tetapi terancam berhenti kuliah karena biaya. Melalui program ini, pemerintah hadir memberikan solusi agar mereka bisa menyelesaikan pendidikannya,” ujar Rusdy, Jumat (5/9/2025).
Program Anti Putus Kuliah akan menyasar mahasiswa dari keluarga kurang mampu, terutama yang sedang berada di semester pertengahan dan akhir. Bentuk bantuan meliputi pembayaran UKT (Uang Kuliah Tunggal), bantuan biaya penelitian skripsi atau tugas akhir, hingga subsidi kebutuhan dasar bagi mahasiswa perantau.
Baca Juga : Wagub Resmikan Proper Transformasi Perhutanan Sosial
Tidak Boleh Ada Lagi Mahasiswa Berhenti Karena Biaya
Rusdy menjelaskan, program ini merupakan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi dengan perguruan tinggi, serta melibatkan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial (CSR). “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan kampus dan dunia usaha sangat penting agar lebih banyak mahasiswa terbantu,” katanya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulteng, Irwan Lahade, menambahkan bahwa tahap awal program akan menjangkau sedikitnya 1.500 mahasiswa di berbagai universitas negeri maupun swasta di Sulteng. Mekanisme pendaftaran dilakukan secara online dengan sistem verifikasi ketat agar tepat sasaran.
Sejumlah mahasiswa menyambut gembira program ini. Amalia, mahasiswa semester enam di Universitas Tadulako, mengaku hampir putus kuliah karena orang tuanya terdampak PHK. “Alhamdulillah ada program ini. Harapan saya bisa lanjut kuliah sampai selesai. Terima kasih pemerintah sudah peduli,” ujarnya haru.
Program Anti Putus Kuliah diharapkan dapat menekan angka mahasiswa dropout di Sulteng, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah. “Kalau anak-anak muda kita bisa tamat kuliah, maka mereka punya kesempatan lebih besar mendapat pekerjaan layak dan membangun daerah,” tutup Rusdy.








