, ,

Sebuah Diskusi Mendalam PFI Palu: Menggali Sejarah Bencana dan Etika Jurnalisme yang Memanusiakan

by -351 Views

Mengukir Ingatan, Menjunjung Martabat: Diskusi PFI Palu Bahas Kesiapsiagaan dan Etika Jurnalisme Kebencanaan

News Palu– Sebuah kota yang dikelilingi oleh lekuk bukit dan teluk yang cantik, menyimpan memori kelam di balik pesonanya. Kota ini tidak hanya hidup di atas patahan, tetapi juga di atas lapisan sejarah bencana yang berulang. Dalam semangat untuk tidak melupakan, sekaligus untuk belajar dan bangkit, Pewarta Foto Indonesia (PFI) Kota Palu menyelenggarakan sebuah acara yang bukan sekadar pameran, tetapi juga ruang refleksi mendalam.

Usai membuka pameran foto jurnalistik bertajuk ‘Asa di Atas Patahan’ yang menampilkan karya 25 pewarta foto dari dalam negeri dan Malaysia, PFI Palu menghadirkan diskusi krusial pada Senin (15/9) di Palu Grand Mall. Diskusi ini mengangkat dua sisi mata uang yang sama: kebencanaan dan etika liputan. Acara yang dihadiri oleh mahasiswa, komunitas fotografi, lembaga pers mahasiswa, dan organisasi pers ini menghadirkan dua pembicara berkompeten: Jefrianto dari Komunista Historia Sulteng dan pewarta foto kawakan ANTARA FOTO, Basri Marzuki.

Belajar dari Masa Lalu: Sejarah sebagai Guru Terbaik

Jefrianto, dalam pemaparannya, menekankan satu hal yang sering terabaikan: amnesia kolektif terhadap sejarah bencana. Ia mengingatkan semua yang hadir bahwa sebelum gempa, tsunami, dan likuifaksi dahsyat 28 September 2018 meluluhlantakkan Palu, banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa wilayah mereka pernah dilanda tsunami pada masa silam.

“Hidup di atas patahan harus membuat kita paham benar di mana kita tinggal. Kalau kita tidak belajar dari sejarah, maka nasib kita bisa sama dengan para korban sebelumnya,” tegas Jefri.

Sebuah Diskusi Mendalam PFI Palu: Menggali Sejarah Bencana dan Etika Jurnalisme yang Memanusiakan
Sebuah Diskusi Mendalam PFI Palu: Menggali Sejarah Bencana dan Etika Jurnalisme yang Memanusiakan

Baca Juga: Joy Sailing: Danlanal Palu Ajak Forkopimda Nikmati Keindahan Teluk Palu

Pernyataannya ini menyentuh akar persoalan kesiapsiagaan bencana di Indonesia. Seringkali, pengetahuan tentang bahaya (hazard) tidak diiringi dengan kesadaran akan kerentanan (vulnerability) dan kapasitas (capacity) masyarakat. Sejarah bukanlah deretan tahun dan peristiwa usang, melainkan panduan hidup (guidebook) untuk menyelamatkan generasi masa depan.

Jefrianto mengapresiasi langkah PFI Palu yang menghadirkan pameran foto untuk mengenang bencana. Ia menegaskan bahwa karya-karya foto yang dipajang bukan untuk menakut-nakuti atau membangkitkan trauma, melainkan berfungsi sebagai ‘pengingat visual’ (visual reminder) yang abadi.

“Kenapa kita gagap (saat bencana 2018)? Karena kita melupakan sejarah. Foto-foto karya jurnalis ini adalah catatan sejarah yang harus terus ditampilkan agar generasi berikutnya tetap waspada,” ujarnya.

Dalam konteks ini, jurnalisme memainkan peran yang jauh lebih mulia daripada sekadar pemberitaan. Ia menjadi arsip hidup yang aktif, sebuah medium edukasi yang powerful untuk membangun budaya siaga bencana.

Etika di Atas Segalanya: Jurnalisme yang Memanusiakan

Sementara Jefrianto berbicara dari perspektif sejarah, Basri Marzuki, seorang pewarta foto senior yang telah meliput berbagai peristiwa nasional, membawa perspektif praktis dan etis. Ia membahas teknik dan, yang lebih penting, etika meliput di zona bencana.

Basri menekankan bahwa liputan bencana memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menyajikan informasi aktual. “Liputan bencana akan bermakna ketika mampu menghadirkan empati sekaligus mendorong perhatian publik terhadap nasib para korban,” katanya.

Maknanya, sebuah foto atau berita dari lokasi bencana harus bisa membawa pemirsa untuk merasakan empati, bukan sekadar rasa ngeri atau iba sesaat. Ia harus mampu menerjemahkan kepiluan menjadi aksi nyata, dan keputusasaan menjadi harapan.

Basri dengan berani menyoroti praktik jurnalistik yang keliru yang masih sering terjadi. Ia menyayangkan adanya pewarta yang mengeksploitasi kesedihan secara berlebihan, misalnya dengan memotret korban dalam kondisi yang sangat mengenaskan tanpa persetujuan atau memublikasikan gambar-gambar di ruang privat yang seharusnya dihormati.

“Padahal ada hal-hal lain yang tidak kalah menarik yang publik harus tahu tentang sisi lain dari bencana itu sendiri dan pantas untuk direkam sebagai sebuah karya jurnalistik,” imbuh Basri.

Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa bencana bukan hanya tentang kehancuran dan air mata. Ia juga tentang ketangguhan, solidaritas, gotong royong, dan secercah harapan yang tumbuh di antara puing-puing. Sebuah foto relawan yang menenteng barang bantuan, atau seorang ibu yang tersenyum meski tenda pengungsiannya sederhana, seringkali memiliki kekuatan naratif yang lebih besar dan lebih manusiawi daripada gambar mayat yang terbaring.

Oleh karena itu, Basri berpesan sebuah prinsip dasar yang tidak boleh dilupakan: “Dalam menghasilkan karya foto jurnalistik, jangan pernah sesekali menghilangkan martabat pada setiap subjek foto.” Subjek foto, terutama korban bencana, adalah manusia yang sedang berada di titik terlemahnya, bukan objek untuk mengejar rating atau likes.

Diskusi yang dihelat PFI Palu ini adalah sebuah titik terang. Ia menunjukkan kesadaran yang matang dari insan pers dan komunitas di Palu tentang peran mereka dalam membentuk masa depan kota.

Pameran ‘Asa di Atas Patahan’ dan diskusi ini adalah dua sisi dari misi yang sama:

  1. Mengukir Ingatan: Melalui lensa kamera, peristiwa sejarah yang pahit diabadikan agar tidak terlupakan, menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat.

  2. Menjunjung Martabat: Melalui etika jurnalistik yang ketat, proses peliputan dan publikasi dilakukan dengan penuh empati, menghormati korban, dan mencari sisi manusiawi yang dapat menginspirasi.

Acara ini bukan sekadar seremonial. Ia adalah penguatan kapasitas kolektif. Bagi para mahasiswa dan jurnalis muda yang hadir, mereka mendapatkan pelajaran berharga: menjadi pewarta yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga berhati nurani. Bagi masyarakat luas, ini adalah pengingat bahwa hidup di tanah yang rawan bencana memerlukan kesiapan lahir dan batin.

Palu telah belajar dengan cara yang sangat keras. Kini, melalui jurnalisme yang bertanggung jawab dan edukasi sejarah yang terus-menerus, kota ini berusaha membangun ketangguhan yang tidak hanya berupa infrastruktur yang kokoh, tetapi juga masyarakat yang berpengetahuan, waspada, dan manusiawi. Karena pada akhirnya, bencana adalah ujian bukan hanya bagi struktur tanah, tetapi juga bagi integritas dan kemanusiaan kita semua.

telkomsel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.